Salah satu sumber kebahagiaan dari Allah untuk seorang hamba adalah tetangga yang shaleh. Alhamdulillah, untuk hal ini, saya diberikan kebahagiaan yang besar. Saya memiliki banyak tetangga shaleh. Banyak pelajaran yang tersedia, ilmu maupun teladan. Salah satu pelajaran yang berkesan adalah tentang penjagaan lisan.
Di antara tetangga, terdapat dua orang yang cukup menarik perhatian saya. Yang seorang muda, satunya lagi separuh baya. Sebagai tetangga saya cukup mengenal keduanya dari akhlak sehari-hari yang terlihat dan terkadang dari perbincangan singkat (biasanya menuju atau kembali dari masjid).
Tetangga saya yang muda, kata-katanya selalu positif. Bahkan kadang saya disanjung untuk selanjutnya di motivasi (saya selalu malu, mengingat keshalehan beliau). Setiap berbincang beliau sangat antusias mengetahui perkembangan kabar saya. Di salah satu musibah kecil yang saya alami, saya ingin menangis. Bukan disebabkan musibah itu, tapi karena haru saya mendengar penghiburan beliau dan beliau terlihat begitu sedih.
Tetangga saya yang paruh baya setiap berbicara selalu bermuka cerah dan tersenyum. Di beberapa kali perbincangan, kata-kata dari beliau hanya ada dua : silaturahmi dan nasehat. Menanyakan kabar, menceritakan kabar, memberi nasehat dan menjawab pertanyaan. Sepanjang yang saya perhatikan, lisan beliau benar-benar dijaga agar tidak ada unsur dusta, agar tidak berlebihan, bahkan agar tidak sia-sia.
Saya selalu heran, betapa kedua ustadz ini bisa selalu mengeluarkan kata-kata yang penuh manfaat? Beberapa kali saya perhatikan, mungkin kuncinya ada pada diam. Ya, diam. Mereka terlihat bisa mengatur kapan harus diam. Diam itu nampaknya digunakan untuk berkonsentrasi mencerna informasi dan berfikir dengan baik. Lalu, saat diperlukan, barulah mereka mengeluarkan kata-kata penuh manfaat.
Benarlah sabda Rasulullah saw:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR, Muttafaq Alaih).
Mencontoh penjagaan lisan kedua Ustadz ini adalah hal yang sulit. Menjaga dari hal-hal yang haram, yang makruh, bahkan yang sia-sia. Lalu istiqomah.
Mencontohnya sulit. Tapi, ganjarannya sangat besar. Bukankah sesuatu ganjaran yang besar, memerlukan perjuangan yang kuat? Rasulullah yang menjamin.
“Barang siapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya (kumis dan jenggot), dan antara dua pahanya, saya jamin dia masuk sorga” (HR. Bukhari)
Ramadhan kali ini hendaknya menjadi saat yang tepat bagi saya untuk mengurangi kebiasaan buruk dalam berkata-kata haram, makruh dan sia-sia. Semoga Allah memberi karunia kelembutan hati agar saya dapat membina diri di Ramadhan ini dengan peringatan dari Rasulullah saw:
“Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dosa dan dia melakukannya, maka Allah tidak membutuhkan dia untuk meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari).
Semoga saya istiqomah.
.
.
.
.
.
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18).
