Feeds:
Tulisan
Komentar

Keberhasilan AKP Turki

PM Turki, Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah diskusi memaparkan tentang keberhasilan AK Party di Turki meraih dukungan mayoritas pemuda.

AKP meraih dukungan mayoritas pemuda, karena AKP memulai dari “pemenuhan harapan pemuda”. Di Turki pemudanya berharap akan kepastian pekerjaan, pendidikan dan perumahan.

Setelah pemuda simpatik karena harapannya di penuhi, AKP memperkuat penetrasinya dengan “mengubah gaya hidup” pemuda Turki. dari yg kebarat-baratan dan bebas tak terkendali menuju budaya turki dan budaya ketimuran.

Setelah dinilai berhasil, barulah AKP menanamkan “nilai” pada para pemuda.

……pemenuhan harapan pemuda > mengubah gaya hidup > nilai……

Dalam teknis pelaksanaannya, ada ruang batas toleransi yang cukup luas diawal dan semakin menyempit. bahkan toleransi bisa hilang, ketika kekentalan nilainya sudah sama antara si penyampai dan penerima nilai.

Menurut saya ini menarik karena:
- ada tahapan, diawali dari yg pragmatis untuk tujuan akhir yg idealis
- nilai dibangun setelah adanya kedekatan gaya hidup
- ada tahapan penyempitan ruang batas toleransi
- ruang penerapan strategi AKP ini sangat luas, bisa ke banyak medan.

Bgaiamana pendapat teman-teman?

Ramadhankan Lisan

Salah satu sumber kebahagiaan dari Allah untuk seorang hamba adalah tetangga yang shaleh. Alhamdulillah, untuk hal ini, saya diberikan kebahagiaan yang besar. Saya memiliki banyak tetangga shaleh. Banyak pelajaran yang tersedia, ilmu maupun teladan. Salah satu pelajaran yang berkesan adalah tentang penjagaan lisan.

Di antara tetangga, terdapat dua orang yang cukup menarik perhatian saya. Yang seorang muda, satunya lagi separuh baya. Sebagai tetangga saya cukup mengenal keduanya dari akhlak sehari-hari yang terlihat dan terkadang dari perbincangan singkat (biasanya menuju atau kembali dari masjid).

Tetangga saya yang muda, kata-katanya selalu positif. Bahkan kadang saya disanjung untuk selanjutnya di motivasi (saya selalu malu, mengingat keshalehan beliau). Setiap berbincang beliau sangat antusias mengetahui perkembangan kabar saya. Di salah satu musibah kecil yang saya alami, saya ingin menangis. Bukan disebabkan musibah itu, tapi karena haru saya mendengar penghiburan beliau dan beliau terlihat begitu sedih.

Tetangga saya yang paruh baya setiap berbicara selalu bermuka cerah dan tersenyum. Di beberapa kali perbincangan, kata-kata dari beliau hanya ada dua : silaturahmi dan nasehat. Menanyakan kabar, menceritakan kabar, memberi nasehat dan menjawab pertanyaan. Sepanjang yang saya perhatikan, lisan beliau benar-benar dijaga agar tidak ada unsur dusta, agar tidak berlebihan, bahkan agar tidak sia-sia.

Saya selalu heran, betapa kedua ustadz ini bisa selalu mengeluarkan kata-kata yang penuh manfaat? Beberapa kali saya perhatikan, mungkin kuncinya ada pada diam. Ya, diam. Mereka terlihat bisa mengatur kapan harus diam. Diam itu nampaknya digunakan untuk berkonsentrasi mencerna informasi dan berfikir dengan baik. Lalu, saat diperlukan, barulah mereka mengeluarkan kata-kata penuh manfaat.

Benarlah sabda Rasulullah saw:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR, Muttafaq Alaih).

Mencontoh penjagaan lisan kedua Ustadz ini adalah hal yang sulit. Menjaga dari hal-hal yang haram, yang makruh, bahkan yang sia-sia. Lalu istiqomah.

Mencontohnya sulit. Tapi, ganjarannya sangat besar. Bukankah sesuatu ganjaran yang besar, memerlukan perjuangan yang kuat? Rasulullah yang menjamin.

“Barang siapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya (kumis dan jenggot), dan antara dua pahanya, saya jamin dia masuk sorga” (HR. Bukhari)

Ramadhan kali ini hendaknya menjadi saat yang tepat bagi saya untuk mengurangi kebiasaan buruk dalam berkata-kata haram, makruh dan sia-sia. Semoga Allah memberi karunia kelembutan hati agar saya dapat membina diri di Ramadhan ini dengan peringatan dari Rasulullah saw:

“Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dosa dan dia melakukannya, maka Allah tidak membutuhkan dia untuk meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari).

Semoga saya istiqomah.

.

.

.

.

.

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18).

Muslim Dermawan

Kita memandang harta sebagai salah satu alat yang disediakan Allah untuk beramal sholeh. Kita akan berusaha untuk mencari harta yang halal, lalu dengannya kita akan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita. Setelah itu kita akan menafkahkan harta tersebut di jalan Allah.

Jika kita selalu menafkahkan harta di jalan Allah, kita akan mendapatkan banyak keutamaan. Hal di tegaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

“Orang yang dermawan (al-sakhi) itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka…” (HR Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Tidak hanya itu, kebiasaan kita menafkahkan harta di jalan Allah akan mengantarkan kita mencapai kebahagiaan abadi di akhirat. Surga, InsyaAllah. Kita yakin akan hal ini, karena Rasullah saw bersabda: salah satu pintu surga adalah bagi orang yang gemar bersedekah (dirawatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Karena adanya perlakuan khusus bagi para ahli sedekah (dermawan), kita akan berusaha mendidik diri untuk selalu bederma. Kita bahkan boleh hasad.

Rasulullah saw bersabda “Diperbolehkah hasad pada dua hal: Seseorang yang diberikan harta yang selalu diinfakkannya. Dan seseorang yang diberikan ilmu, dia mempergunakan ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada orang lain.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Jika kita sudah kaya, maka kita boleh hasad pada para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in sampai generasi sekarang yang kekayaannya melimpah, yang dengan itu mereka menorehkan tinta emas dalam sejarah penderma.

Jika kita belum kaya, maka kita tetap boleh hasad. Karena sabda diatas bukan hasad pada orang kaya tapi jarang berderma. Rasulullah membolehkan hasad pada: “Seseorang yang diberikan harta yang selalu diinfakkannya”. Jadi hasad kita adalah bagi orang yang dermawan. Yang selalu berinfak dengan hartanya. Banyak atau sedikit.

Tak boleh berhenti pada hasad, kita memang harus menginfakkan harta kita di jalan Allah. Kita harus sering bederma. Cukuplah firman-firman Allah ini menjadi pengingat dan pelecut semangat.

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.(QS Al Kahfi: 46)

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang pada saat itu tidak ada jual beli, tidak ada hubungan kasih sayang dan tidak ada pula syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim.” (AS Al-Baqarah: 254)

“Maka bertakwalah kalian kepada Allah sekuat kemampuan kalian, dengar dan taatlah kalian kepada-Nya, serta infakkanlah harta yang baik bagi diri kalian, dan barangsiapa dilindungi dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS At-Taghabun: 16)

“Dan apa pun yang kalian infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (QS Saba`: 39)

“..Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS Al Baqarah 272).

Muslim Kaya

Dalam Islam, harta ditempatkan di tengah. Islam menuntut seorang muslim untuk berhati-hati terhadap harta, namun tidak serta merta Islam mengharamkannya. Yang dilarang adalah keterperdayaan pada harta (ditunjukkan dengan sikap hidup bermewah-mewahan). Hal ini dapat disimpulkan saat mengkaji peringatan Allah dalam Al Qur’an. Allah mengingatkan secara langsung (surah At Takaatsur) maupun lewat kisah ummat terdahulu (Surah Saba’: 34 dan Surah Al Qashash: 58).

Di tengah larangan terperdaya pada harta, seorang muslim tetap butuh untuk menjadi kaya. Kebutuhan pertama adalah karena adanya perintah zakat dan haji. Untuk menjadi muzzaki, nisab harta kita minimal senilai dengan 85 gram emas. Untuk bisa melaksanakan haji kita minimal harus mempunyai harta sebanyak $3500. Artinya jika kedua kesempatan itu tidak kita ambil, berkuranglah tabungan kita menuju surga.

Kebutuhan yang kedua adalah agar kita secara benar bertanggung jawab atas kewajiban sosial kita. Saat ini realitas kesejahteraan hidup masyarakat kita begitu memilukan.

Di Jawa Timur, ramadhan tahun lalu ada 21 orang yang meninggal karena terhimpit-himpit saat mengantri zakat.
Di pojok-pojok pemukiman kumuh, ada saja saudara kita yang meninggal dalam keadaaan tidak punya uang untuk berobat.
Di Leuwi Gajah ada beberapa pemulung yang sesekali makannya makanan sisa yang dipilah dari tumpukan sampah.
Di Pelesiran ada seorang anak umur 12 tahun yang harus menjadi penanggung jawab nafkah keluarga: ayahnya pemulung kerjanya mabuk, ibunya minggat kawin lagi,adiknya masih balita.
Di sekitar Palasari ada seorang bapak umurnya lebih dari 70 tahun, anaknya tidak ada. Dengan tubuhnya yang kurus renta dan mata sebelah kiri yang sudah hancur beliau bekerja mengumpulkan barang-barang bekas. Berkilometer tubuh itu bergetar membawa gerobak berat tanpa alas kaki.

Jika di kumpulkan terus, mungkin ada beribu bahkan berjuta kasus yang semakin membuat kita bertanya: kenapa?. Secara sederhana, bagi saya jawabannya  : 1) banyaknya orang kuat yang zalim. 2) banyaknya orang baik yang lemah.

Jika kita merasa baik dan cukup sholeh namun ternyata masih lemah, kita harus bergeser dari posisi nyaman. Secara benar kita perlu bertanggung jawab pada kewajiban sosial kita. Kita perlu mencontoh sikap orang-orang shaleh terdahulu. Kita perlu mendidik diri agar seperti seorang tabi’in yang setiap memberi sedekah selalu menangis sambil berdo’a, kira-kira begini do’anya “Ya Allah ampunkanlah hamba atas kemampuan hamba yang sangat kecil sehingga masih banyak saudara-saudara hamba yang kelaparan”. Kita perlu melatih diri kita agar bisa seperti Hissan bin Abu Sinan seorang tabi’ut tabi’in, mahir berniaga dengan niat yang terang, seterang pernyataannya “Kalau bukan karena orang-orang miskin, aku tidak akan berdagang”.

Kebutuhan yang ketiga adalah agar kita ada di posisi terdepan dalam perlombaan kebaikan. Diperbolehkan iri pada orang kaya yang dermawan. Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah saw bersabda “Diperbolehkah hasad pada dua hal: Seseorang yang diberikan harta yang selalu diinfakkannya. Dan seseorang yang diberikan ilmu, dia mempergunakan ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada orang lain.”(HR. Bukhari dan Muslim). Lalu seperti apa contoh perlombahan kebaikan (dengan harta) dari generasi terbaik ummat ini?. Ummar bin Khattab ra memberikan setengah hartanya untuk di sedekahkan. Abu Bakar As Shiddiq ra menyedekahkan seluruh hartanya. Ustman bin Affan ra membiayai seluruh kebutuhan perang 10.000 tentara Islam. Abdurrahman bin Auf ra setiap duduk di majelis Rasulullah saw bersedekah 40 ribu dinar (64 Milyar)!.

Kita butuh untuk menjadi kaya. Karenanya mulai saat ini kita perlu mempelajari secara mendalam penjelasan Islam tentang harta. Kemudian, kita perlu membuat tujuan dalam aspek beramal dengan harta. Tujuan setinggi mungkin yang masih bisa kita cerna dalam detail rencana hidup kita. Karena Rasulullah bersabda “Dan seorang hamba yang diberikan rizki oleh Allah berupa ilmu tetapi tidak diberi harta. Dengan niat yang tulus dia berkata: seandainya aku punya harta, aku akan berbuat banyak seperti yang dilakukan fulan. Maka Allah menyamakan pahala keduanya.” (HR Tirmidzi).

Lalu, kita harus selalu berdo’a kepada Allah saw agar kita diberikan rezeki yang berkah dan melimpah. Berdo’a agar rezeki tersebut diletakkan Allah pada tangan kita, bukan hati kita.

Kemudian, kita berusaha.

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada  (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. ” (QS At Taubah:105).

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).”(QS An  Najm: 39-40).

InsyaAllah: Bisa.

Kita dan Palestina

Wahai saudaraku, antum yang membaca tulisan ini tentu tahu kondisi terkini di Palestina. Yang meninggal sudah 350 orang (terus bertambah), korban luka-luka 1650 orang, 300 di antaranya luka berat.

Wahai saudaraku, resapilah firman Allah dan sabda Rasulullah berikut ini :

“…Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya“. (QS Al-Ma’idah:2)

Rasulullah saw bersabda: “Sesama muslim itu bersaudara. Oleh karena itu, jangan menganiaya dan jangan mendiamkan. Siapa saja yang memperhatikan kepentingan saudaranya, Allah akan memperhatikannya. Siapa saja yang melapangkan satu kesulitan sesama muslim, niscaya Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitannya pada hari kiamat. Siapa saja yang menutupi kejelakan seorang muslim Allah akan menutupi kejelekannya pada hari kiamat.” (HR.Bukhari Muslim)

“Siapa saja yang bangun pagi hari tetapi tidak memperhatikan urusan kaum Muslim,ia bukanlah golongan mereka”.(HR.Ath-Thabari).

“Tidaklah beriman salah satu diantara kalian jika ia tidak (belum bisa) mencintai saudaranya (seiman) seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari Muslim)

Wahai saudaraku, jawaban apa yang sudah kita siapkan, saat di Yaumul Hisab kita dan Allah berhadapan, lalu ditanyakan apa yang sudah kita lakukan?

Wahai saudaraku, jawaban apa yang sudah kita siapkan? Lanjut Baca »

Kita Yang Menentukan

Ummat muslim adalah ummat pemenang. Karena memang begitulah Allah -lewat Al Quran dan Sunnah- menyiapkan.

“..Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..” (QS Ar Ra’d:11)

Seperti dijelaskan dalam Surah Ar Ra’d ayat 11, Allah menghendaki adanya sebuah konsep pemenang dalam diri ummat Islam. Konsep yang menghendaki ummat ini bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri. Yang menghendaki ummat ini berlaku jujur mengintrospeksi diri. Yang menghendaki ummat ini mengharamkan pengkambinghitaman, menolak praktik penjilatan.

Kenyataannya saat ini ummat Islam belum menjadi pemenang. Lanjut Baca »

Berturut beberapa hari membaca situs-situs penista Islam, Allah dan Nabi Muhammad SAW. Berturut beberapa hari dada saya berdesir, sulit bagi saya menahan emosi.

*Jika anda muslim, dan anda melihat situs lapotuak (dan banyak situs penista lain) serta membaca forum Faith Freedom Indonesia, tentu anda akan merasakan kesulitan yang sama.
Lanjut Baca »

“Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amalan yang paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah”

Para shahabat bertanya “Wahai Rasulullah, apakah amal-amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah dari pada jihad fii sabilillah ?”

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : ”Ya, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari)

* Sebentar lagi nih. Semangat!

LuckyEcha

Lagi-lagi tentang nikah :)

*Musim nikah ni

Tapi kali ini bukan tentang saya. Ini tentang dua orang teman, sekaligus guru.

Tentang Lucky dan Echa :)

Kunjungi ya

Nikmati juga tulisan-tulisan lainnya :)

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara…

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana…

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu…

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku…

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku…

Aku mencintaimu…
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu…

~*Sapardi Djoko Damono*~

[ Kumpulan Sajak "Hujan Bulan Juni", 1989 ]


Tulisan Sebelumnya »