Saudara-saudara! Pernah di Indonesia sistem uzlah dilakukan, terlepas dari soal zaman. Sistem itu dipakai oleh umat Islam di bawah pimpinan alim ulama. Mereka mengambil sistem uzlah untuk mempertahankan diri, mempertahankan kubu-kubu pertahanan jiwa, berupa pesantren-pesantren , berupa mesjid-mesjid, di mana uzlah itu dapat disempurnakan. Ini yang dijalankan oleh Tuanku Imam Bonjol umpamanya!.
Ada orang pada masa itu mengatakan bahwa belajar bahasa Belanda haram hukumnya, berdasi itu juga tidak boleh, sebab menyerupai orang-orang kafir. Mereka mengharamkan sekolah-sekolah H.I.S. yang didirikan oleh penjajah sendiri. Di situlah timbul potensi di Indonesia dan berkembanglah satu dinamik yang besar untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang sampai sekarang masih dirasakan lezatnya oleh kita semua, yaitu pemimpin-pemimpin yang berasal dari pesantren-pesantren. Yang ada di Barat itu terutamanya adalah tenknik dan effisiensi . Akan tetapi hasil atau akibat dari memakai itu, disadari atau tidak ialah intisari dari apa yang hendak dipertahankan jadi hancur. Ia menceburkan diri dalam air untuk berenang, tetapi terbawa hanyut dalam air itu sendiri.
Dengan itu Islam hanya tinggal hayyaalas-salah, hayya alalfalah sahaja lagi. Ini akibatnya menceburkan diri maksud memegang kemudi, akan tetapi hanyut ke hilir. Kesudahannya yang hidup di sana itu ialah pikiran yang statis, yang tidak bergerak sedikit juga.
Uzlah yang dipakai oleh zaman itu memang akhirnya dapat memperlindungi sesuatu yang ada dalam negeri dari kerusakan alam pikiran. Tapi yang demikian adalah ujung dari sikap tidak berani menghadapi ruh dan iktikad dari luar lantas menutup pintu erat-erat. Kesudahannya yang hidup di sana itu juga adalah alam alam pikirann yang statis yang tidak bergerak.Tidak ada dinamik untuk mencari dan menjelajah, dinamik yang menjadi sifat putra-putra Islam dahulu.Tidak akan timbul lagi Al-Farabi dan Ibn Sina ke-2 oleh sikap yang seperti itu. Dan salah satu aliran pokok pikiran yang ditarik untuk menengahi kedua pendirian ekstrim itu ialah pikiran dari Jamaluddin Afghani dan Mohammad Abduh yang memberikan satu pedoman kepada umat Islam seluruh dunia sekarang ini. Di situ ada pikiran yang berharga , berupa pusparagam yang di dalamnya kelihatan pokok dan pangkal. Cobalah saudara-saudara lihat dan saudara-saudara pelajari sendiri.
Pidato M. Natsir didepan Mahasiswa Medan, tanggal 2 Disember 1953.
* uz·lah : pengasingan diri untuk memusatkan perhatian pd ibadah (berzikir dan tafakur) kpd Allah Swt (sumber KBBI).


wah postingan yang bagus banget nih
jadi bingung mo komen ap!?!?!?!
saya malah bingung mau komen apa terkait komennya hangga
Adakah Natsir baru dalam babak perjuangan Indonesia modern? Semoga …
semoga akhi.
kita hanya bisa berusaha dan berdoa.
semoga kita termasuk yang tegar berjuang membela agama.
Ya Allah
kuatkn diriku
pererat ukhuwah antara kami
jadikan kami generasi rabbani
amin ya Rahman