“Tidak ada opsi itu [kenaikan harga BBM bersubsidi]. Kami cari solusi lain yang cespleng. Insya Allah mengurangi dampak tanpa harus menimbulkan permasalahan ke masyarakat. Kita carikan jalan keluar sebaik mungkin,”
“Kalau memang begini terus dan lebih tinggi lagi [harga minyak mentah], akan ada yang kita lakukan secara siginifikan. Nanti kami jelaskan kepada publik apa langkah yang signifikan. Sekarang kita semua, saya, wapres, dan para menteri sedang menyiapkan opsi-opsi yang harus dilakukan.”
Itu adalah pernyataan resmi Pak SBY, Presiden RI, pada akhir tahun lalu, 18 November 2007, setelah pelantikan KSAL. Tidak ada opsi menaikkan harga BBM bersubsidi (1)
“APBN kita mengalami pukulan yang berat, karena subsidi memang melonjak dengan tajam. Kita terus berikhtiar mencari solusi. Sejak awal saya katakan, kita harus mencari solusi yang lain dan untuk tidak terlalu cepat menaikkan BBM. Menaikkan harga BBM adalah cara terakhir apabila tidak ada cara yang lain. Marilah kita bersama-sama merumuskan solusi ini sebaik-baiknya, terbaik untuk bangsa, tetapi tetap membantu saudara-saudara kita yang miskin.”
Ini di ucapkan Pak SBY tanggal 4 Mei yang lalu, dalam sambutannya di Milad ke 10 PKS di Gelora Bung Karno. Disini Pak SBY kembali berjanji, tentunya janji yang telah direvisi, bahwa penghapusan subsidi adalah opsi terakhir dari pemerintah (2).
Tentunya, awam seperti saya akan sulit menerima pilihan yang dilakukan oleh pemerintahan Pak SBY sekarang ini. Pak SBY dan kabinetnya tiba-tiba mengambil pilihan untuk mengurangi subsidi BBM yang berakibat pada naiknya harga dipasaran. Ada pertanyaan besar di kepala saya, janji solusi lain yang cespleng itu apa kabarnya? Janji beberapa hari lalu bahwa penghapusan subsidi adalah opsi terakhir itu bagaimana? Yang saya lihat ini kenyataan sebaliknya, subsidi adalah opsi yang langsung diambil. Tidak ada solusi lain yang dicoba, solusi cespleng nya Pak SBY pun tak jelas raib dimana.
Banyak solusi-solusi yang sudah ditawarkan para pakar dimedia-media. Para mahasiswa juga sudah berusaha dengan caranya; mengonsep, menuntut dan meminta kesempatan bicara dengan pihak penguasa. Para anggota dewan, lebih tepat anggota partai yang kebetulan didewan, pun saat ini sedang berusaha meminta Presiden dan Mentri untuk berdiskusi. Bahkan diawam seperti saya pun, ada terselip opsi solusi satu dua. Salah satunya penghematan.
Tulisan ini bukan bertujuan ingin membahas panjang lebar tentang opsi-opsi ekonomi yang sebaiknya ditempuh pemerintah. Saya tidak ingin terjebak disana. Saya hanya ingin membahas tentang penghematan yang sekarang masuk agenda pemerintahan Pak SBY.
Saya mendukung penuh usaha penghematan yang sedang dibawa Pak SBY. Momen naiknya harga minyak dunia sangatlah pantas dijadikan tonggak penghematan di Indonesia. Bangsa miskin ini harus berhemat. Amat nista bangsa ini, jika dalam kemiskinannya masih juga bermegahan, foya-foya.
Kalau sebelumnya dibanyak kesempatan Pak SBY sering terlihat maju mundur dalam keputusan yang diambilnya, sekarang tidak bisa lagi. Ini bukan seperti melawan permintaan Amerika atau kekuatan asing lainnya, ini pekerjaan mengawal bangsa sendiri. Penghematan juga tidak akan mendapat campur tangan pihak asing, tidak ada pintu alasan pembenaran disini.
Saat beberapa hari lalu Pak SBY menghimbau rakyat untuk berhemat, saya rasa itu adalah himbauan yang hampir pasti terlaksana. Tidak usah dihimbaupun, kalau harga BBM dinaikkan, masyarakat akan berhemat dengan sendirinya. Saya kira rakyatt tidak terlalu bodoh untuk menyadari kalau tidak berhemat, mereka akan mati dengan segera (3).
Penghematan yang paling penting untuk dikawal justru di kalangan pemerintah sendiri. Sukses gagal Pak SBY dalam mengawal penghematan ini menjadi poin nilai Pak SBY dimata rakyat Indonesia. Pak SBY harus mengeluarkan langkah-langkah kongkrit tersistematik untuk memaksa semua jajaran pemerintah menghemat pengeluarannya. Di berita saya baca, Pak SBY akan sidak ke berbagai kantor pemerintahan. Ini bagus, tapi belum cukup. Pak SBY tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada tangan-tangan yang secara konsisten membantu Pak SBY. Jangan Wakil Presiden JK yang diserahi, apalagi Pak AB sang Menkokesra. Pak SBY perlu membentuk KPPFF, Komisi Pemberantasan Pemborosan dan Foya-Foya. Lembaga independen yang galak , sistematis, dan berkewenangan tinggi seperti KPK. Semua anggaran dan kegiatan pemerintahan pusat dan daerah harus dikoreksi dan direcoki. Ada punish buat yang menjadi tersangka, ada reward yang pejabat sanggup hidup bersahaja.
Selain itu, Pak SBY perlu menunjukkan perannya sebagai pemimpin nomor satu bangsa, bukan nomor dua. Pak SBY, saya yakin, bukanlah orang yang hanya bisa memerintah dan membuat program penghematan, tapi juga memberikan teladan. Bagusnya bagi bangsa kita nilai keteladanan masih efektif, ianya memberi dampak tinggi dari pada sekedar ucapan dan himbauan.
Pak SBY bisa memulai dari memangkas habis protokoler kepresidenan. Kita kerucutkan ke protokoler pengawalan dan keamanan (karena ini yang sering saya lihat). Di Milad PKS kemarin, ketika Pak SBY pidato ada sebuah helikopter yang terus berputar diatas Gelora Bung Karno. Ini buat apa? Secara hitung-hitungan Pak SBY tidak punya musuh dari luar negara, keputusan Pak SBY selalu “aman”. Dari kalangan rakyat pun sepertinya tak ada yang sampai minat menghabisi nyawa. Jadi sebaiknya pertunjukan helikopter berputar itu dihilangkan saja. Selain itu, iring-iringan kendaraan pengawal Pak SBY yang sedemikian panjang setiap perjalanan dinas itu di sudah harus dikurangi. Masa untuk membuka jalan butuh puluhan mobil dan motor pengawal? Ini kan jauh dari hemat namanya.
Jika dalam kenyataan kedepan Pak SBY bisa menunjukkan teladan dalam hemat dan hidup bersahaja, InsyaAllah, Pak SBY juga akan tinggi derajatnya dimata rakyat Indonesia. Kesengsaraan rakyat akan terobati (sedikit) dengan melihat pemimpinnya yang turut berjuang berhemat bersama mereka. Himbauan Pak SBY ke aparat juga insyaAllah akan ada “ruh”nya. Sehingga program penghematan ini benar-benar terlaksana, ada gregetnya, bukan cuma slogan yang panas saat seremoni pembuka.
Hampir kelupaan, teladan tentunya tidak dilakukan sekali saja, tapi setiap hari. Sehingga menjadi jati diri. Jangan juga seperti Pak MI. Mengajak rakyat berhemat, dengan naik ojek ke MPR DPR cuma sekali. Kan Jadinya dicurigai sana-sini.
Disuatu masa, lebih dari seribu tahun lalu. Ada seorang pemimpin melakukan perjalanan jauh, Madinah menuju Palestina. Kehadirannya untuk menerima kunci pembuka Masjidil Aqsha. Pemimpin itu melakukan perjalanan jauh menggunakan unta, ditemani seorang pembantunya. Unta yang satu itu bukan hanya untuk dia saja, dipakai berganti berdua. Digantinya setiap jarak satu juz bacaan Al Quran. Di akhir perjalanan, didepan pintu kota Yerussalem, kebetulan yang ada diatas unta adalah pembantunya. Tak ayal yang mendapat sambutan dan salam penghormatan adalah pembantunya. Tapi dia senang saja. Baginya itu bukan persoalan yang memusingkan kepala. Baginya ridha Allah yang utama. Bukan kehinaan, kejadian itu membuat kedudukan semakin tinggi diakalangan umat manusia.
Namanya Umar. Amirul Mukminin.
1. http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/1id29795.html
2. http://www.presidenri.go.id/index.php/pidato/2008/05/04/903.html
3. Ah, nggak gitu juga rif, masih banyak yang terlalu bodoh disaat menderita masih menghabiskan puluhan ribu demi menghisap rokok saja. Tanya kenapa.

Wah, Pak maaf lama tak OL saya.
Ehmmm.. alhamdulillah gak megang apa2 Pak….
Lagi pengen refleksi diri ngapain aja sih saya.
Dulu sih berminat untuk calon senator, tapi karena ada beberapa pertimbangan gak jadi..
Gimana kabar anda, gimana pesawat2 baik2 saja?
Yang jelas BBM tuh bukan naik harga tapi ganti harga…
Demo? ehmm bukan solusi. klise memang tapi kita mesti mulai dari sekarang, diri sendiri, dan dari hal terkecil.
Mohon do’a nya juga ya…
miris yah???
makanya org bilang lebih baik byk mendengar ketimbang byk omong..
mw gimana lagi kang..
lah wong pak sby itu terbaik dari yang terburuk
Mulai dari BBM, Pendidikan sampe Rokok, semuanya kembali ke masalah efisiensi anggaran kayaknya rif…
Kayak kata ust. Sabiqin itu lho… kita ini sebenernya nggak bisa makmur karena dua hal… nggak efisien dan nggak jujur ngelola negara…
Makanya butuh tergantikan oleh para pejabat yang inget siksa kubur dan hari akhir…
wallahu a’lam bisshawwab
Hidup arab!!
ayo kita laksanakan program “hemat berjamaah”, manfaatnya untuk kelangsungan hidup anak cucu kita kelak…:D
bos, pak MH itu siapa? stau saya yang kampanye hemat energi naek ojeg ke MPR itu pak MI…:D
ikutan..kampanyekan hemat bbm tuk anak cucu
mungkin lebih baik kita mengamati langkah berat yang diambil ini
@ Zul : ia, salah ketik. Udah saya ganti jadi Pak MI
Salam
Jadi teringat kisah Khalifah Abdullah bin Umar, bagaimana dia memilah antara kepentingan pribadi dan negara dalam menggunakan sarana negara, Subhanalloh adakah keteladanan itu di jaman ini. **nyambung ga ya**
Asw. Pak arif..tajam sekali tulisan2nya..
hmm,,dukung kenaikan bbm,,saatnya subsidi orang, bukan subsidi barang! optimis,,pasti akan ada pemimpin yg berusaha adil..insyaAllah..
wsw. selamat datang di dunia blogger nanche.
justru saya tidak setuju dengan subsidi orang (kalau konteksnya BLT). menurut saya ini akan membuat masyarakat sangat tergantung pada bantuan.
sebaiknya pemerintah mensubsidi BBM untuk kalangan tertentu. Ada kluster subsidi BBMnya. Untuk angkutan umum, nelayan, petani, dan pengusaha kecil. Terutama untuk angkutan umum, agar kenaikan harga-harga lain (efek dominonya) dapat dikurangi.
Sudah pas waktunya untuk kampanye “Hidup Zuhud”
Menggunakan fasilitas hidup yang didapat sesuai kebutuhan, tidak berambisi berlebihan terhadap dunia [kecuali berambisi untuk semakin mendekati Allah SWT dan Rasul-Nya] dan memberikan kelebihan untuk maslahat bersama.
Semoga ini bisa dimulai dari diri [saya] kita dulu, dengan harapan para pejabat [yang notabene pemimpin] memulai untuk mencontohkannya…insya Allah..amin Allahumma amin.
Jazakallah Mas Arif
Hidup “Hidup Zuhud” !!!
hidup hemat…hemat…dan hemat
yaa menurut hemat saya, apapun yang baik kita dukung terus.
semoga indonesia bisa terus berjaya, I hope….:D
salam,
subsidi orang maksudnya bukan BLT. itu kan jangka pendek dan langsung aja. Subsidi orang itu dana negara disubsidi ke orang2 yang membutuhkan dalam bentuk biaya pendidikan atau kesejahteraan lainnya, biar lebih banyak orang yang menikmatinya. Kalo subsidi BBM aja, yang menikmati kebanyakan yang punya mobil, belum merata.
btw, namanya linknya Nanche dong, jangan Nache(heheh,g penting y^^)
siap bu guru. langsung diganti
update :
pagi ini saya dengar di radio (El Shinta?) bahwa pihak Istana mengecam iklan Pak Wiranto. Kubu Pak SBY ngga pernah merasa pernah berjanji untuk tidak menaikkan BBM .
Alasannya, media salah kutip.
Terkait blog ini, memang pernyataan Pak SBY pertama (1) itu data skunder, dari web bisnis.com. Tetapi yang kedua, tentang perkataan bahwa menaikkan BBM adalah cara terakhir (2), itu data primer. Langsung saya dengar dan saya kutip dari situs resmi presiden. Wallahualam.
Kita ikuti perkembangannya.
Ini link “perang terbuka” nya. Selamat menikmati…
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/22/time/064700/idnews/942910/idkanal/10
Karena kasus pertempuran politik ini, saran saya untuk Pak SBY makin tegas : “lakukanlah penghematan”.
Justru dengan berhemat besar-besaran, pemerintahan Pak SBY tidak perlu repot menanggapi manuver politik lawan-lawan. Seperti kata orang bijak : “Perbuatan lebih berpengaruh dibanding perkataan”.
Buat lawan-lawan politik Pak SBY, momen ini bisa jadi lahan untuk menunjukkan anda bisa berempati dan merasakan penderitaan rakyat, tentu bukan dengan provokasi murhan. Tapi dengan keteladanan. Dengan berhemat dan hidup bpenuh kesahajaan.
Kita harus contoh Pak Hatta dan Pak Natsir dalam berhemat. Kalau masa sekarang kita punya Pak Hidayat.
http://nugrohotech.wordpress.com/2008/04/21/sehari-bersama-usthidayat-nurwahid/
*Selamat berhemat….
ckckck, ustadz hidayat yah?? ngerilah….
hm, tampaknya butuh bantuan dalam waktu dekat nih….
Solusi cespleng itu bagi siapa ya…
@ aul :
butuh bantuan dalam waktu dekat?
@ DM :
bagi yang merasakannya. entah siapa.
Tadi khatib Jumat bilang:
D”i Palestina, untuk membayar gaji pegawai negeri, Ismail Haniya menjual perabot rumah tangganya.
Begitulah teladan dari seorang pemimpin negeri.”
hmmm…
In my opinion. Kalo kata Andi M saat lebih baik subsidi orang daripada barang. Kalo kata saya saatnya subsidi Investasi (pendidikan, kesehatan, infrastruktur) daripada subsidi konsumsi.