Ialah, bahwa kemunduran dan kemadjuan itu, tidak bergantung kepada ketimuran dan kebaratan, tidak bergantung kepada putih, kuning, atau hitam warna kulit, tetapi bergantung kepada ada atau tidaknja sifat2 dan bibit2 kesanggupan dalam salah satu umat, jang mendjadikan mereka lajak atau tidaknja menduduki tempat jang mulai diatas dunia ini.
Dan ada atau tidaknja sifat2 dan kesanggupan (kapasitet) ini bergantung kepada didikan ruhani dan djasmani, jang mereka terima untuk mentjapai jang demikian.
Kita tidak usah bermegah diri dengan apa jang telah ditjapai oleh umat jang telah dahulu dari kita, dan tak usah kita menepuk dada dengan ketinggian dan kemuliaan umat Islam dalam abad2 keemasan dari tarich Islam, dimasa bendera Islam ber-kibar2 dari Timur sampai ke Barat, dimasa universitet2 islam memantjarkan thjahajanja jang gemerlapan kesegenap podjok dunia, memberi penerangan kebenua Eropah jang ketika itu masih gelap. Tak usah kita bermegah diri dengan djihad dan kemenangan mereka.
“Umat ini telah berlalu. Mereka menerima apa jang patut mereka terima, dan kamu akan menerima apa jang patut kamu terima pula. Kamu tidak akan ditanja tentang apa2 jang mereka telah lakukan.”, demikian Al Quran menegaskan, dalam surat Al Baqarah: 134.
Umat2 itu memang sudah dahulu dari kita. Mereka teriama, apa jang lajak mereka terima, jang sepadan dengan usaha dan amal2 mereka. Dan kita akan menerima pula apa jang pantas kita terima, jang berpadanan dengan usaha dan kerdja kita. Kita tidak akan ditanja tentang apa2 jang nenek mojang kita itu telah kerjakan.
Sekarang marilah kita bertanja kepada diri kita sendiri: apakah jang telah kita kerdjakan dan usahakan; dan apakah jang telah kita peroleh? Marilah kita periksa diri kita dan diri umat kita jang sekarang ini, apakah dalam diri kita masing2 dan dalam kalangan kaum kita, ada sifat2 dan kekuatan serta ketjakapan dan kesanggupan seperti mereka2 jang dahulu itu, atau belumkah?
Sebagian dari sifat2 mereka kaum Muslimin pada abad2 keemasan itu, ialah ketetapan dan ketabahan hati mereka dalam tiap2 usaha mereka, baik dunia maupun achirat, baik dalam beribadat ataupun dalam menuntut ilmu. Apakah kaum kita sekarang sudah umum begitu?
Mereka mempunjai pudjangga2 dalam urusan agama, dalam urusan ilmu-pengetahuan, dalam urusan pemerintahan, dalam segala urusan jang berhubungan dengan kemaslahatan mereka.
Adakah kita mempunjai itu?
Mereka mempunjai sifat tawakal, kemerdekaan berfikir, berani mempertahankan hak, mendjunjung perintah Allah dengan tunduk dan ichlas.
Apakah kita sekarang sudah begitu?
Pertanjaan ini tidak susah mendjawabnja. Terserah kepada diri kita masing2 memberi djawabnja!
Marilah sama2 kita insafi bahwa menurut sunatullah semua sifat dan kesanggupan2 itu tidak dapat ditjapai, ketjuali dengan didikan jang sungguh2. lantaran itu masalah pendidikan ini adalah masalah masjarakat, masalah kemadjuan jang sangat penting sekali, lebih penting dari masalah jang lain2.
Petikan pidato M Natsir pada Rapat Persatuan Islam di Bogor, tanggal 17 Juni 1934.


Salam
Selama kita menjauhkan diri dari hukum-hukum Rabb, sejatinya kebangkitan umat ini ga agak terwujud, tapi Insya Alloh dengan penuh keyakinan akan tercapai jika “sifat tawakal, kemerdekaan berfikir, berani mempertahankan hak, mendjunjung perintah Allah dengan tunduk dan ichlas” dilaksanakan. Amin
mau ngutip nih, masih dalam konteks pendidikan…:D
“Mendidik anak itu mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan kehidupan kita pada zaman sekarang, itulah buah pendidikan yang kita terima dari orangtua pada waktu kita masih kanak-kanak.”…Ki Hajar Dewantara (1889-1959)
pendidikan / tarbiyah adalah hal yang utama
bangkit negeriku
harapan itu masih ada
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di Social Bookmarking Indonesia http://www.infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://pendidikan.infogue.com/buya_natsir_tentang_pentingnya_pendidikan
Majukan pendidikan… terutama pendidikan agama !
Insya Allah kita bisa !!!
hayuk sama-sama kita bangun negeri ini lewat pendidikan.
emang penting bgt …aku setuju dg dzullfadillah…dr mendidik anak mnjd cikal bakal pendidikan rakyat
mknya ayo belajar jd pendidik yg tepat biar ga salah arah…tentunya dg banyak belajar downg…
Subhanallah , pesan yang dalam , terimakasih postingannya
benar banget kaya buya natsir
ass.
Subhanallah……..mantab mas, masih ada ya kopian pidato Muhammad Natsir, sy adalah salahsatu penggemar tokoh yang satu ini.
boleh saya copy mas ? buat bacaa pribadi
salam kenal mas, thanks ya udah mampir di blogku
sy link ya
Alex:
saya ada bukunya yang Capita Selecta. InsyaAllah beberapa waktu kedepan dipilih-pilih mana-mana yang bisa dimasukin di blog ini. silahkan yg di blog ini dicopy.
Mas Alex tinggalnya dimana? Kalau di Jakarta, di Kwitang kayanya masih ada tuh buku.
kena banget tuh apa yang disebutkan Buya Natsir…
*miris sama pendidikan disini*
waduh bahasanya….dalem euy…
kunjungan balasan, trima kasih dah berkunjung…. salam kenal..
“Hari ini Pelajar Besok Ilmuwan” pernyataan ini bukan berarti sim salabim dalam 24 jam dapat menjadikan kita ulama sekaliber ilmuwan-ilmuwan beken tempo doeloe ..
jangan pernah bermimpi jadi ilmuwan kalau kita belum dapat bersabar hingga ‘kesabaran’ mengetahui bahwa kita tetap bersabar pada sesuatu yang lebih pahit sekalipun dari ‘kesabaran’ itu…
sebelum detik-detik kita sebagai proses menjadikan belajar adalah kebutuhan utama harian kita, seperti halnya setiap hari tubuh kita menuntut pemenuhan makan dan minum demi kelangsungan hidup…
sebelum Allah berkehendak memutus kontrak amanah kehidupan kita….
Pintu ilmu terbuka lebar bagi siapapun yang mau dan mampu mewarnai jenaknya dengan terus belajar dan membagi hasil belajarnya kepada orang-orang sekitarnya, sehingga ilmu yang dimilikinya tidak hanya mencahayai dirinya tapi mampu mencahayai kerabat, teman, dan dunia, insya Allah.
betul banget pak
Pendidikan adalah hal yang paling utama
ngomong2 di Medan pak ?
ada rencana kopdar nich
mau ikut berpartisipasi ?
@ TaQ :
subhanallah.
amin ya Allah.
@ realy life:
saya di tangerang pak.
kapan kopdarannya?
kita bantu doa saja ya. salam buat lae lae disana.
kita butuh 1000 natsir muda lagi di negeri ini…insya allah kang arif salah satunya..!!! amien !!
aku komen lagi biar avatarku bisa masuk..
gpp kan kang Natsir muda ??!!
@ HILMAN
wuih. AMIN………
@ HILMAN :
biar avatar bisa muncul tuh gimana caranya bung hilman?
saya kadang ada avatar kadang nteu aya. kumaha nya?
mantap…rif lagi berkubang dimana?? butuh bantuan nih…
best regards,
wassalam…..:)
@ aul :
buset dah, berkubang
gue di Tangerang. di Sukarno Hatta tepatnya. Sekarang kerja di sini.
*selamat menunaikan amanah pak Ketua OSKM (namanya di OSKM-in lagi donk)
saya bacanya faster nih..
tapi saya setuju dengan intinya, bahwa pendidikan itu penting.
walaupun pendidikan ga mesti formal seperti sekolah dan kuliah, tapi sekarang ini di indo masih tetep dianggap yang terdidik itu ya yang sekolah.
tapi sekolah dan kuliah mahal.
tak semua orang bisa sekolah. anak pintar pun terpaksa jadi petani karena tak ada biaya sekolah.
nah, jadi bagaimana itu?
kita akan mendirikan sekolah murah bermutu bagus mbak. berlandaskan tauhid. unggul dalam IPTEK. maju dalam kajian pemikiran.
mohon doanya
sekarang sudah mulai ada banyak sekolah dengan basis pendidikan keagaaman -islam- yang semakin baik mutunya ya,Pak.
saya mampir, tertarik dengan isi blog-nya…
dian
fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
UNS,Solo.