“(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”, (QS Qaf : 17).
Rekaman Al Amin Nasution, hal itu tentu ada dalam laci memori kita saat ini. Letaknya di bagian tengah depan. Tidak sulit mencari. Mudah bagi kita saat ini mengeluarkannya, bahkan sampai ke detail pembicaraan nistanya tentang uang dan penghinaannya pada wanita.
Rekaman Artalyta. Entahlah, mungkin ada yang masuk laci memori bagian belakang. Tapi secara umukm kita masih terbayang, pembicaraannya dengan jaksa-jaksa lain yang digelari agung, tentang pembagian uang haram.
Dalam kondisi yang demikian busuk ini, saya sangat gelisah. Bukan, bukan karena mereka, pemilik nama-nama diatas. Tapi pada kita. Bisa jadi rekaman-rekaman vulgar ini menyebabkan rasa sensistifitas kita akan akan kebenaran dan norma-norma akan memudar. Manusia itu makhluk yang tidak bisa lepas dari lingkungan. Baik atau buruk, manusia itu punya daya penyesuaian.
Sehingga, dalam beberapa waktu kedepan, akan sangat mungkin muncul ucapan-ucapan menyerah atau malah pembenaran. “Ga papa pi, ambil sepuluh juta, Artalyta aja yg kasusnya menampar bangsa, cuma dituntut lima tahun”.“Mi, aku kemaren kan khilaf. Belum ngapa-ngapain kok. Cuma cipika cipiki di pub saja, jangan samakan aku dengan Al Amin”.
Kegelisahan ini bisa pudar, jika- hanya jika- kita sebagai manusia tidak menjadikan hal busuk luar biasa ini sebagai pembenaran. Manusia jenis ini jelas adalah pecundang sejati. Pecundang sejati, yang berusaha minta pengertian dan belas kasihan dari hasil perbandingan-perbandingan terhadap kasus yang lebih busuk dari yang dilakukannya. Hendaknya momen rekaman Al Amin dan Artalyta ini cukup sebagai tamparan, tapi bukan menjadi patokan. Patokan kita justru tamparan-tamparan “kecil” yang menyebabkan kita malu, dan berusaha memperbaiki diri. Tamparan-tamparan “kecil” yang, salah satunya, di tampilkan oleh program televisi Snapshot. Tamparan-tamparan yang dekat dan hendaknya mendidik kita. Setiap saat diacara itu mungkin kita menertawakan atau bahkan mencela pelaku-pelaku “kejahatan” itu, tapi marilah kita tidak menjadi orang biasa (orang biasa boleh di garis bawahi), yang hanya bisa menyalahkan.
Marilah menjadi pejuang. Pejuang itu, setiap melihat acara Snapshot, dan snapshot-snapshot lain disetiap momen hidupnya, maka dia akan berkaca, meng ingat-ingat, bisa jadi itu adalah cermin dirinya beberapa waktu lalu. Yang merokok seenak hati, yang membuang sampah tak kenal budi, yang menjadi agen pungli, yang membahayakan orang lain dan diri sendiri. Pejuang adalah yang bertaubat memperbaiki diri, karena ia yakin penuh akan adanya rekaman-rekaman setiap detik hidupnya. Rekaman-rekaman teramat rinci yang di hari akhir akan menjadi bahan pertanggung jawaban.
Manusia punya potensi lemah pendirian, potensi terbawa arus lingkungan. Perlu adanya suatu mekanisme pemantauan. Kesadaran merasa dipantau yang diikuti keyakinan penuh akan adanya pertanggungjawaban akan setiap hasil pantauan, dapat menahan manusia dari perbuatan jahat yang melanggar nilai-nilai kebenaran (karena saya muslim, maka kebenaran yang saya yakini dan perjuangkan adalah kebenaran yang datangnya dari Allah, dijelaskan dan diteladankan oleh Rasulullah SAW). Kesadaran ini adalah salah satu tanda kuatnya iman.
Tentunya penanaman kesadaran ini, sesuai firman Allah dalam Al Quran surah Qaf ayat ke 17 diatas, tak cukup hanya untuk diri kita sendiri. Prinsip agama ini adalah rahmatan lil alamin. Semua kebaikannya harus disebarkan. Saya dan anda punya tanggung jawab untuk turus menyebarkan dan menanamkan ke hati orang-orang terdekat, yang menjadi tanggung jawab kita. Yang saaat ini menjadi ayah, ibu, anak, suami, istri, pemimpin, guru (ini sama saja dengan mengatakan, kita semua!). Hendaknya disadari bahwa kesadaran ini tentu tidak cukup didapatkan dengan teori dan hafalan. Orang-orang yang melakukan tindak korupsi dan hal-hal haram itu, jika ia muslim, tentunya tau perihal malaikat Raqib Atid yang mencatat setiap perbuatan.
Lebih dari teori, kesadaran direkam ini harus di latih. Baiknya, latihan dilakukan di medan-medan perjuangan hebat dengan mekanisme penjagaan komunitas yang kuat. Jangan sampai pejuang (konteks snapshot diatas) yang selalu memperbaiki diri, malah melempen dan stagnan di tengah jalan. Keberhasialn pribadi pejuang itu ”hanya” menahan tidak membuang sampah selama beberapa hari. Latihan perlu dilakukan di medan-medan perjuangan hebat dengan mekanisme penjagaan yang kuat (silahkan dikaitkan ke konsep amal jamai).
Berjuang, bertahan, saling mengingatkan, perbaikan, berjuang, bertahan….begitu seterusnya adalah mekanisme pembelajaran tanpa henti. Ini yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat dulu. Kita tentu memahami, bahwa dahulu Rasulullah menanamkan akidah yang kuat –termasuk keyakinan akan rekaman dan pertanggungjawaban ini- bukan sekedar dari majelis ilmu di rumah Al Arqam dan mesjid Nabawi. Akidah kuat ini ditanami Rasulullah SAW dalam setiap momen kehidupan para sahabat: ibadah, bekerja, bersama keluarga, bertetangga, bahkan sampai ke medan peperangan.
Kesadaran selalu direkam dan akan dimintai pertanggungjawabkan adalah bukti akidah yang kokoh lagi suci. Kesadaran ini akan melahirkan tindak kepatuhan dan penghambaan disiplin tinggi. Bagi yang memilikinya akan ditempatkan dalam derajat yang tinggi, dihadiahkan kebahagiaan hakiki. Sesuatu yang mulia tinggi, haruslah diperjuangkan sepenuh hati. Ianya didapatkan dikedalaman samudra pencarian, di puncak gunung perjuangan.
Yang mulia tinggi ini hanya pantas bagi pejuang sejati. Ianya pantas bagi Ali. Seorang sahabat, menantu dan sepupu Nabi. Seorang pemuda gagah cerdas yang sepanjang sejarah hidupnya tak pernah kalah dalam pertempuran. Ali lah yang dalam sebuah pertempuran tidak melanjutkan menyerang musuh yang pedangnya patah, bahkan ia berikan pedangnya, karena musuhnya bersumpah jika punya pedang maka musuhnya akan melanjutkan pertempuran. Ali lah yang dalam sebuah pertempuran, tidak jadi menebaskan pedangnya karena takut tergelincirnya niat akibat kemarahan setelah mukanya diludahi. Inilah kepatuhan dan pengendalian diri luar biasa, buah dari kuatnya kesadaran akan rekaman dan pertanggung jawaban.
“…kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Yunus : 23).


sekali-kali ingin mengamankan rumah sendiri dari pencurian petramax.
baiknya, kisah Ali ra tadi saya cantumkan di bagian komen ini.
Suatu hari ketika Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh. Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata, “Jika pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu.”
“Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu,” orang itu berteriak balik.
“Baiklah kalau begitu,” jawab ‘Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu.
“Apa yang sedang kamu lakukan”, tanya orang itu kebingungan. “Bukankah saya ini musuhmu?”
Ali memandang tepat di matanya dan berkata,
“Kamu bersumpah kalau memiliki sebuah pedang di tanganmu, maka kamu akan membunuhku. Sekarang kamu telah memiliki pedangku, karena itu majulah dan seranglah aku”.
Tetapi orang itu tidak mampu.
“Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata,” jelas ‘Ali.
“Di dalam agama Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kamu dan aku. Kita bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kekurangan kebijakanmu. Yaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mempertanggungjawabkannya pada hari kiamat. Allah akan mempertanyakan hal ini kepadaku.”
“Inikah cara Islam?” Orang itu bertanya.
“Ya,” jawab ‘Ali, “Ini adalah firman Allah, yang Mahakuasa, dan Sang Unik.”
Dengan segera, orang itu bersujud di kaki ‘Ali dan memohon, “Ajarkan aku syahadat.”
ini kisah keduanya :
Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya.
Ali menjatuhkan lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan pedangnya ke leher orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh orang itu.
“Mengapa kamu tidak membunuh aku?” Orang itu berteriak dengan marah.
“Aku adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?”, Dan dia meludahi muka Ali.
Mulanya Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik pedangnya.
“Aku bukan musuhmu”, Ali menjawab.
“Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau meludahi aku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak membunuhmu.”
“Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?” orang itu bertanya.
“Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan”. ‘Ali menjelaskan kepadanya. “Meskipun engkau telah meludahiku, dan mendesakku untuk membunuhmu, aku tak boleh.”
“Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?”
“Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam.”
Dengan segera orang itu tersungkur di kaki Ali dan dia juga diajari dua kalimat syahadat.
Selain program Snapshot, saya teringat dengan kisah seorang Kyai yang mengajari santrinya tentang hakikat rekaman dan pertanggungjawaban.
Kyai meminta santrinya untuk memotong ayam (kayanya memang motong ayam) di tempat yg tidak diketahui siapapun kecuali dirinya (santri tsb). setelah sekian jauh mencari, akhirnya santri tsb memotong ayam di tengah hutan yang sunyi senyap.
Setelah berhasil memeotong ayam di tempat yang diyakini tak diketahui siapapun lagi, maka dia melapor kepada Kyai. Bukan penghargaan, malah nasihat yang didapatkan.
Kyai merasa salah mendidik santri. Karena sesungguhnya tidak ada tempat di dunia ini yang hanya kita sendiri yang mengetahui. Ada Allah, ada malaikat pencatat yang selalu menyertai.
…..
Nah itu kan cara TV (metro TV) dan seorang Kyai dalam mendidik dan menanamkan kesadaran akan rekaman dan pertanggungjawaban.
bagaimana dengan saudara-saudaraku semua. Ada yang mau berbagi pengalaman dan cara mendidik diri (orang lain) tentang kesadaran ini?
Yang jadi guru? Yang jadi ayah? Yang jadi ibu? yang jadi calon suami? Yang jadi calon istri?
Ditunggu diskusi tentang cara menanamkan kesadaran ini.
Salam hangat.
“yang jadi calon suami?…” sok atuh bang arif yang akan segera menjadi suami, kumaha?…ditunggu juga kiat2 bang arif untuk menanamkan kesadaran “rekaman” itu, saya mungkin bisa benchmark nanti.
kalo saya mah ingat saja semua yang kita kerjakan pasti ada pertanggungjawabannya, itu bisa jadi kontrol untuk diri kita.
“iya sebenernya sih takut bahwa kita ini sedang direkam oleh kameranya Allah, tapi kan lingkungan yang memaksa saya untuk berbuat seperti ini seperti itu…” ya kalo gitu mah hijrah aja ke lingkungan yang lebih baik, jangan diam di tempat, kalo perlu kita merubah lingkungan itu menjadi “bersih”. Lagi-lagi ini logika sederhana, tapi di lapangan memang sungguh berat. Hidup Pejuang sejati.
subhanallah akhi
yup kebenaran bukan untuk sendiri
tapi kebenaran perlu ditebarkan
sebagaimana keburukan bukan hanya tuk kita sendiri hindari
tapi kita juga harus mengingatkan yang lain agar terhindar dari prilaku buruk tersebut
kebenaran mengkin bisa dikalahkan
tapi kebenaran tidak pernah termusnahkan
para pembela kebenaran tak kan pernah hilang
selalu ada dan ada lagi
tidak hanya semasa Rasulullah
tapi juga di era kita ini
dan bahkan nanti
mungkin anak2 kita yang memegang amanah itu
terpulang kembali dari ini semua
sudahkah kita berusaha tuk selalu bertahan dalam kebenaran
tentunya bukan berarti menghilangkan kesalahan
karena kita bukanlah sempurna
tapi tugas kita
minimalisir dosa perbanyak kebaikan
tapi aku adalah aku
perlu doa dan dukungan dari sahabat semua
karena aku adalah Sang Khilaf
Sensitivitas memang bisa berkurang karena contoh yang tidak baik dan tidak diapa2i… Tidak hanya kasus Al-Amin dan Arthalyta… tapi kasus2 film2 porno juga kan gitu,, dimulai dari adegan satu ciuman yg tidak diapa2i, dijatuhi hukuman atau apa,, akhirnya dilanjutkan dengan film lain dengan adegan lain yg lebih,,, lama2 sensitivitas berkurang…
sampai saat ini pengalaman sy membangun kesadaran yaitu dgn tauladan…
selain kesadaran diri sendiri butuh juga orang atau hal lain mengingatkan. Salah satunya yah hukum… tapi beberapa pelaksana hukumnya aja udah gak sensitif…hufff,,,
…
oleh karena itu skrg kita butuh positive thinking atau keyakinan bahwa hukum bisa ditegakkan
Jika ALLAH ingin membuka aib seorang pendosa … sangat mudah bagiNya, dan ini yang selalu saya ingat untuk tidak menambah aib-aib dalam jiwa saya
*sok tahu yah saya*
tapi kasus ini menjadi pembelajaran pejabat untuk tidak korupsi dan menyuap lho
wah, bagus2…
saya jadi inget kisah itu….
emg gitu sih,,, mulianya ajaran islam…
Selalu ada hikmah dan pelajaran dalam setiap kejadian.
Itulah maqom ihsan yg pernah di ajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat dalam dialog beliau dengan malaikat Jibril a.s.
Beribadahlah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tak bisa melihat-Nya, ketahuilah bahwa sesungguhnya DIA melihatmu…
Semoga Allah SWT hanya meyibukkan diri kita utk mengambil pelajaran dan hikmah disetiap kejadian..amiin.
Ya Allah,
Karuniakanlah hamba sifat Ihsan….
makasih ceritanya mas…
it inspiried me, really
syukron katsiron
ternyata teknologi sangat membantu manusia
mengungkap kebenaran…
Kisah ali ra yang pertama saya belum pernah dengar…(jadi ajang dapet ilmu baru)
Kita tak bisa bersembunyi dari ‘mata’ Allah SWT..kemanapun kita pergi Ia selalu melihat kita…
hm…..hm…
selain Snapshot saya juga suka lihat John Pantau
* OOT mode on
Niat patuh dan pengendalian diri luar biasa, yang pastilah ada pasang surutnya, akan membentengi kita dari godaan.
Godaan yang mengelabui hati nurani sehingga hampir tidak terlihat batas antara yang hak dan bathil (dianggap betis…beda tipis)..
Oya sekedar berbagi, betis ini tiap saat sangat potansi terjadi disini
Katakanlah kalau seorang vendor berhasil terpilih sebagai supplier (tentu berhasil menyinkirkan pesaing lainnya)..biasanya si vendor menawarkan ini
-kalau produk kami kepake, (ada perjanjian)bapak dapat 10% fee, kalau ini sih kita masih dapat menamai ini suap… kalau yang ini
-Produk si pendor sudah diopersikan di pabrik, setelah beberapa bulan kemudian si “pak” dapet sms, berbunyi gini Pak, minta no rekening bapak, bapak dapet fee 10% dari produk kami yang seharga 2 miliar.. jumlahnya itung sendiri… nah loh!
apa kita boleh berpikir, akh gak papa, kita kan gak minta, kan gak ada perjanjian!, ini udah rejeki!?….. Kalo gak jeli pasti gak keliatan batas yang maksud diatas… Hanya niat, hati nurani yang tau jawabannya..
Semoga paparan nyata ini (benar2 terjadi bukan berandai atau teori) dapat menjadi renungan buat kita
hello…
wuits… habis posting lgs dikomeng sendiri bahkan panjangnya sama dg postingannya
hebat euy…
@ zulfadhillah : cara saya baru begini: penguatan konsep sebagai muslim, komunitas yang saling menjaga, dan selalu melihat sirah Rasul, sahabat dan para orang shaleh yang bisa menjaga dirinya karena selalu sadar akan adanya rekaman.
kalau buat ngedidik anak? ntar… dipraktekin dulu baru dishare
@ achoey : kang achoey puitis sekali..langsung mengalir komennya
saling mendoakan ya kang
@ fitrasani : fitra ini emang pengamat televisi. terus berjuang ya bu.
@ rindu : ia mbak. mengingat kebaikan Allah yang selalu menutup aib kita adalah salah satu cara.
@ aRul : mudah-mudahan belajar untuk takut dan tidak. bukan belajar mengganti modus operandi
@ dhedi : ia bang. prinsipnya harus kuat dulu, baru bisa tegas. ga asal seruduk.
@ rozy : amin. saya didoakan juga bang.
@ fickry : sama-sama bang fickry. sering-sering berkunjung bang
@ adi isa : penmggunaan teknologi yg tepat guna
di korea rekaman-rekaman begini (bahkan rekaman video) sudah dilakukan lebih dari 4 tahun lalu
@ syelvieapoe3 : John Pantau itu reality news setipe snapshot mbak? dimana jam brapa? hehehe
@ rita : jazakallah mbak.
@ carra : ini menunjukkan ke belumsanggupan saya untuk membuat tulisan singkat, padat, dan jelas. si mbak bisa aja.
saya sensitif banget.. PMS kali ya?
hah… ga nyambung banget…
ya setuju mas Arif….
Wah trimakasih atas postingannya bang…
*Langsung direnungi
andai hukum benar-benar ditegakan
Ya Allah hamba berlindung dari rekaman yang buruk
amin
malu saya mendengar nama “al-amin” yg sharusnya “dapat dipercaya” akan tetapi justru malah sebaliknya…
maka sesungguhnya gelar (baca: nama) itu hanyalah pantas untuk rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam saja…
saya masih belajar memperbaiki diri bang.
makasih postingannya.
makanya sering-sering berdoa: ” Ya Allah, tutuplah aib-aibku dari orang banyak..”
btw rif, alangkah lebih baiknya kalau penyebutan si “al amin” dipanjangkan menjadi “al amin nasution sahaja”.
@ nengthree : kali. katanya wanita kalau lagi PMS suka sensitif ya?
@ nugroho :
@ azaxs : merenungi lagi
@ hedwig : mari ambil posisi berjuang
@ realylife : amin. kopdarnya sering sekarang di medan bang?
@ afraafifah : benar. gelarnya khusus untuk Rasulullah
@ rhyzq : sayapun juga bang. saling menasehati dan mendoakan kita bang.
@ soliter : ” Ya Allah, tutuplah aib-aibku dari orang banyak..”
siap. dipanjangkan bro.
mungkin hukum perlu diberatkan lagi, terutama buat anggota dpr maupun pegawai negri sipil karena korupsi dan sogokan sudah mendarah daging disana….
kalo perlu, dihukum mati kaya di cina…
@ukimedia
mungkin perlu disebarkan ringtonenya kaya artalyta?
biar jadi efek shock therapy…?
http://miniminded.wordpress.com/2008/07/10/al-amin-azirwan-bribe-ringtone/
http://miniminded.wordpress.com/2008/07/09/al-amin-azirwan-bonus-girl-ringtone/
Jika seandainya rekaman kehidupan ini diperlihatkan Allah kepada semua orang,…..entah bagaimana kita akan berjalan dimuka bumi ini,… itulah Sang Maha Adil, rekaman itu hanya kita sendiri yang tahu,…..
Tulisannya inspiratif bgts,….mkasih untuk bahan renungan,…
Ada pelajaran dari mantan CEO saya…”Berdoalah setiap Subuh agar kita terhindar dari keinginan yang tidak diridhoi oleh Allah swt. Jika kita melihat orang berbuat kejahatan dan masih selamat, tak perlu diirikan, karena mungkin dia masih dicoba dengan kemudahan di dunia, tapi baru mendapat ganjaran setimpal di akhirat nanti.”
Bagi orang yang percaya Tuhan, maka kepercayaan inilah yang merupakan rem jika ingin berbuat tak baik.
Amiiinnnnn……………….
(ini bukan Amin untuk Al Amin Nasution…, tapi Amin untuk posting ini dan doa semua blogger yg mengutuk tindakan tak terpuji sang Anggota dewan yg terhormat)
Allah Maha Mengetahui …
Sampai kita bersembunyi di lubang semutpun IA akan mengetahuinya
Mudah2an kita semua dijauhkan dari hal2 yang negatif dan menyesatkan
amiin
wooo… ntar pake video format .flv kaya youtube kali ya…
:p
dah jadi ringtone ya
Terimakasih pencerahannya.
Salam,
wah iya tuh.. di acara snap shot terlihat jelas abis sifat2 kita yah.. lumayan juga buat introspeksi diri..
apa ada yang salah dengan bangsa ini….
Namanya juga manusia Indonesia, kebanyakan tidak mau belajar dan tidak mau menyadari kerusakan yang diakibatkan oleh perbuatan buruknya. Seluruh hidup kita saat ini memang sedang di-snapshot (direkam) dan kelak akan dipertanggungjawabkan. Namun tetap saja kita membandel dengan berbuat suatu yang korup.
Dan herannya, bangsa kita yang katanya lebih religius dari bangsa2 di negara2 maju yang lebih sekular, tetapi tetap saja bangsa kita ini lebih banyak berbuat korupnya! Apakah bangsa kita ini hanya religius luarnya saja?? Walahualam…..
terimakasih atas ingatannya, semoga para penentu kebijakan di pengadilan dapat benar-benar bersikap adil. karena apa yang dilakukan koruptor-koruptor itu sangat merugikan masyarakat Indonesia. meski mungkin saat ini tak begitu terasa.
sudah saatnya koruptor diberikan hukuman yang sepadan, tanpa tendensi negatif. harapannya ada efek jera dan malu untuk melakukan korupsi.
salamhangat.
berbagi cerita
Sehabis baca komen-komen yang meresahkan di blog yang lain tentang kasus Amin ini, baco blog ini sungguh menentramkan hati….
Terimakasih tausiyahnya, semoga kita bukan menjadi orang yang bisa mengumpat dan menghujat saja,tapi bisa menjadikan setiap kejadian sebagai nasehat untuk kehidupan…
Bang ArifRahman,
Setau saya cerita Ali di medan perang cuma yang kedua, itu pun nggak ada percakapan yang panjang seperti itu. Adanya cuma kafir Quraish tadi kehilangan pedangnya dan Ali sudah dengan pedang yang terhunus (siap membunuh) ketika tiba-tiba si Quraish meludahi muka Ali. Ali dengan segera menyarungkan pedangnya dan si kafir Quraish keheranan dan bertanya : “Kenapa kau tidak jadi menbunuhku?”
Si Ali menjawab kurang lebihnya :”ketika pertama aku mengejar-ngejar kau hendak kubunuh, itu karena kau kafir kepada Allah. Kami memerangi dan marah karena kekafiran itu.
Tetapi dengan kamu meludahi mukaku, aku marah karena mukaku kamu ludahi. Kalau aku tetap membunuh kamu maka aku membunuh karena aku marah kepadamu, bukan membunuh karena Allah.”
Baru si Quraish mengetahui bahwa akhlak Islam seperti itu, dan dia minta diajak masuk ke dalam Islam.
Salam
Kadang tak ingat jika disekeliling kita ada waskat..betul tidak?? *ah lagi2 menyindir diri sendiri*
Belum denger rekaman yang Al Amin euy … jadi penasaran, kalo udah begini, jadi gak percaya lagi deh sama yang namanya Pemerintah RI
seandainya ….
memang banyak yang harus diperbaiki,
bermula dari diri sendiri saja
Salam juga
cahaya kedua dari saya
John Pantau di Trans Tv tiap Sabtu jam 15.30. Iya setipe dengan Snap shot..bedanya..kalo di Snap shot…orang-orang pada lari kalo diminta wawancara..kalo di JP, orang2 malah nyengir kalo diwawancara…Soalnya si presenternya (ini menurutku loh) jago ngambil hati si ’suspect’ supaya si ’suspect’ gak ngerasa terhakimi…Agak-agak lucu juga…he..he..