Dalam Islam, harta ditempatkan di tengah. Islam menuntut seorang muslim untuk berhati-hati terhadap harta, namun tidak serta merta Islam mengharamkannya. Yang dilarang adalah keterperdayaan pada harta (ditunjukkan dengan sikap hidup bermewah-mewahan). Hal ini dapat disimpulkan saat mengkaji peringatan Allah dalam Al Qur’an. Allah mengingatkan secara langsung (surah At Takaatsur) maupun lewat kisah ummat terdahulu (Surah Saba’: 34 dan Surah Al Qashash: 58).
Di tengah larangan terperdaya pada harta, seorang muslim tetap butuh untuk menjadi kaya. Kebutuhan pertama adalah karena adanya perintah zakat dan haji. Untuk menjadi muzzaki, nisab harta kita minimal senilai dengan 85 gram emas. Untuk bisa melaksanakan haji kita minimal harus mempunyai harta sebanyak $3500. Artinya jika kedua kesempatan itu tidak kita ambil, berkuranglah tabungan kita menuju surga.
Kebutuhan yang kedua adalah agar kita secara benar bertanggung jawab atas kewajiban sosial kita. Saat ini realitas kesejahteraan hidup masyarakat kita begitu memilukan.
Di Jawa Timur, ramadhan tahun lalu ada 21 orang yang meninggal karena terhimpit-himpit saat mengantri zakat.
Di pojok-pojok pemukiman kumuh, ada saja saudara kita yang meninggal dalam keadaaan tidak punya uang untuk berobat.
Di Leuwi Gajah ada beberapa pemulung yang sesekali makannya makanan sisa yang dipilah dari tumpukan sampah.
Di Pelesiran ada seorang anak umur 12 tahun yang harus menjadi penanggung jawab nafkah keluarga: ayahnya pemulung kerjanya mabuk, ibunya minggat kawin lagi,adiknya masih balita.
Di sekitar Palasari ada seorang bapak umurnya lebih dari 70 tahun, anaknya tidak ada. Dengan tubuhnya yang kurus renta dan mata sebelah kiri yang sudah hancur beliau bekerja mengumpulkan barang-barang bekas. Berkilometer tubuh itu bergetar membawa gerobak berat tanpa alas kaki.
Jika di kumpulkan terus, mungkin ada beribu bahkan berjuta kasus yang semakin membuat kita bertanya: kenapa?. Secara sederhana, bagi saya jawabannya : 1) banyaknya orang kuat yang zalim. 2) banyaknya orang baik yang lemah.
Jika kita merasa baik dan cukup sholeh namun ternyata masih lemah, kita harus bergeser dari posisi nyaman. Secara benar kita perlu bertanggung jawab pada kewajiban sosial kita. Kita perlu mencontoh sikap orang-orang shaleh terdahulu. Kita perlu mendidik diri agar seperti seorang tabi’in yang setiap memberi sedekah selalu menangis sambil berdo’a, kira-kira begini do’anya “Ya Allah ampunkanlah hamba atas kemampuan hamba yang sangat kecil sehingga masih banyak saudara-saudara hamba yang kelaparan”. Kita perlu melatih diri kita agar bisa seperti Hissan bin Abu Sinan seorang tabi’ut tabi’in, mahir berniaga dengan niat yang terang, seterang pernyataannya “Kalau bukan karena orang-orang miskin, aku tidak akan berdagang”.
Kebutuhan yang ketiga adalah agar kita ada di posisi terdepan dalam perlombaan kebaikan. Diperbolehkan iri pada orang kaya yang dermawan. Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah saw bersabda “Diperbolehkah hasad pada dua hal: Seseorang yang diberikan harta yang selalu diinfakkannya. Dan seseorang yang diberikan ilmu, dia mempergunakan ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada orang lain.”(HR. Bukhari dan Muslim). Lalu seperti apa contoh perlombahan kebaikan (dengan harta) dari generasi terbaik ummat ini?. Ummar bin Khattab ra memberikan setengah hartanya untuk di sedekahkan. Abu Bakar As Shiddiq ra menyedekahkan seluruh hartanya. Ustman bin Affan ra membiayai seluruh kebutuhan perang 10.000 tentara Islam. Abdurrahman bin Auf ra setiap duduk di majelis Rasulullah saw bersedekah 40 ribu dinar (64 Milyar)!.
Kita butuh untuk menjadi kaya. Karenanya mulai saat ini kita perlu mempelajari secara mendalam penjelasan Islam tentang harta. Kemudian, kita perlu membuat tujuan dalam aspek beramal dengan harta. Tujuan setinggi mungkin yang masih bisa kita cerna dalam detail rencana hidup kita. Karena Rasulullah bersabda “Dan seorang hamba yang diberikan rizki oleh Allah berupa ilmu tetapi tidak diberi harta. Dengan niat yang tulus dia berkata: seandainya aku punya harta, aku akan berbuat banyak seperti yang dilakukan fulan. Maka Allah menyamakan pahala keduanya.” (HR Tirmidzi).
Lalu, kita harus selalu berdo’a kepada Allah saw agar kita diberikan rezeki yang berkah dan melimpah. Berdo’a agar rezeki tersebut diletakkan Allah pada tangan kita, bukan hati kita.
Kemudian, kita berusaha.
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. ” (QS At Taubah:105).
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).”(QS An Najm: 39-40).
InsyaAllah: Bisa.


harta, tahta, wanita, jabatan hanyalah hiasan dunia semata
tapi dengan hiasan dunia itu, kita punya pilihan tuk menggunakan guna kebaikkan atau justru menyia-nyiakannya…
Betul, kita memang harus menyisihkan untuk mereka….dan sebagai negeri yang penganut muslimnya besar, mestinya kita bisa lebih baik.
Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah
Semoga kita bisa
Akhirnya kembali menulis lagi
Sahabatku
yup.. kita harus berdoa agar rezeki kita itu berkah, bukan melimpah
berdoa dan berikhtiar utk mendapatkan rezeki yang halal dan berkah merupakan jalan yang seharusnya ditempuh umat muslim. kalau sudah kaya mestinya juga perlu disisihkan utk saudara2nya yang masih kekurangan. sayangnya, di negeri ini banyak orang kaya, tapi kepeduliannya terhadap kaum dhuafa masih tertutup sikap ubbuddunya. *walah ejaannya bener ndak pak arif, hehe ….
Kaya harta memang diperlukan agar kedudukan kita menjadi kuat di mata dunia, walaupun kaya harta saja sebenarnya tidak cukup untuk itu. Kaya akhlak, kaya nurani dan kaya ilmu juga tak kalah pentingnya. Kaya akhlak agar umat Islam tidak merusak dirinya sendiri. Kaya nurani lebih pada agar kita semua mempunyai empati terhadap sesamanya, tentu ini juga ikut memperkuat persatuan umat. Kaya ilmu… tentu saja penting agar umat kita tidak selalu menjadi bulan2an bangsa lain.
Negara2 di timur tengah relatif sudah kaya harta. Namun untuk kaya2 lainnya apalagi kaya ilmu negara2 timur tengah nampaknya belum memilikinya, itulah sebabnya kenapa negara2 Timur Tengah masih sering jadi bulan2an Israel dan negara2 barat.
Ayo, sebagai umat Islam, kita wajib untuk bangkit, bukan hanya kaya harta tetapi juga kaya akhlak, nurani dan juga kaya ilmu!! Insya Allah, kita akan menjadi umat yang bermartabat dan disegani di muka bumi ini………
@ semua:
tulisan ini ingin menagaskan bahwa harta itu adalah sarana.
tujuannya tentu ridho Allah swt.
@ Bu Edratna dan Pak Sawali:
saya sedih dengan jumlah muslim yg demikian besar, banyak masyarakat kita yg miskin. seharusnya tidak begitu. ada pepatah yang menyatakan bahawa “jika kita tidak mempunyai sesuatu, maka kita tidak dapat memberikan sesuatu”. jadi, mungkin saja yg tidak dimiliki ummat ini adalah : ilmu agama yg dalam, tanggung jawab sosial yg benar dan harta untuk infakkan.
@ bang Ridu: berkah itu wajib. melimpah itu pilihan
diperolehkan iri kepada Ustman bin Affan ra yg menginfakkan hartanya untuk perbekalan lengkap 10.000 tentara. diperbolehkan iri kepada Abdurrahman bin Auf ra yang bersedekah 64M setiap duduk di majelis Rasulullah saw. diperbolehkan bercita dan berdoa agar bisa beramal dengan hartanya seperti mereka. saya memilih itu
@ pak Yari: saya sepakat dengan pak Yari, Islam mengajarkan kita untuk memiliki empati yg sangat tinggi. Favorit saya adalah sahabat Ali bin Abi Thalib ra. InsyaAllah kedepan akan dibahas tentang beliau ra.
muslim harus kaya pak, supaya bisa membantu sodaranya yang susah dan berusaha menegakkan panji-panji Allah
@really life: itu yg saya maksud bang
Wadooooowww…!!!!
Siapa yang dorong gue ?! *celingak-celinguk*
Tapi ga apa-apa koq.
Blognya bagus…nanti kesini lagi ah *ngeloyor pergi*
semua muslim itu kaya, nabi kaya harta meski pada akhirnya kaya akan sedekah, bagai dermawannya angin yg bertiup..dan pda akhrnya hanya ranjang pelepah kurma tmpatnya berbaring..
“salam hangat bung ustadz..”
berbagi bukan hanya dengan harta….
tpi berbagai dengan harta tampaknya jauh ebih diharapkan (hhehhehhe)
padahal motivasi bagi mereka yang lemah bisa membangun untuk menjadi kuat sehingga bisa memenuhi kewajiban atas dirinya sendiri dan yang menjadi tanggung jawabnya….
karena sebenarnya meeka yang kurang mampu (dalam hal harta, dan kemampan bersaing lainnya) sebenarnya mempunyai potensi, – saya yakin setiap manusia dilahirkan dengan bakat, dan potensi serta peluang dan rejekinya masing maing- hanya saja mereka kurang percaya diri sehingga sulit menemukan potensi dan peluang2 yang sudah diberikan-
“kalau rejeki tidak akan kemana”
rejeki sma dengan jodoh
kalaupun itu memang diberikan oleh Allah untuk kita tentunya harus dengan usaha untuk mendapatkannya..
sama halnya ketika kita melihat uang dijalan…
tidak mungkian uang itu akan masuk sendiri ke kantong kita jika tidak kita ambil…
satu hal lagi
“takkan lari gunung dikejar”
bodoh sekali orang yang mengejar gunung….
gunung jika diibaratkan rejeki..memang tidak lari kalu dikejar
tapi tiak mungkin gunung itu berjalan menghapiri kita
kalau bukan kita yang mendekati dan kemudian mendakinya hingga kepuncak….
(sepertinya saya “sok” bijak hari ini…hhe hhe hhe harap maklum, hari ini Allah memberikan saya kesadarn, yang mungkin tidak saya dapatkan besok… selagi ada kesadaran..saya mencoba berbcara baik hhe hhe hhe siapa tahu besok saya kembali khilaf….)
_itu pendapat saya, boleh kan?_
salam hangat
-joni-
sepakat abiz…
kaya harta
kaya hati
di dunia
di akherat
amiinn…
sukma
-telah aktif kembali-
Assalamualaikum. maaf numpang iklan. Hp Alquran Dual On Layar Sentuh Pertama Di Indonesia
http://campurcampurtea.blogspot.com/search/label/Hp%20Alquran%20M870
seorang muslim menjadi kaya itu perlu, agar dirinya bisa membantu orang lain terutama fakir miskin dan anak yatim.
Assalamu’alaikum, salam kenal….Subhanallah, tulisan yang inspiratif kawan, nice blog, keep on blogging!!! artikel rahasia menjadi muslim kaya juga bisa aku temukan di sini : http://muslim-kaya.blogspot.com/