PM Turki, Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah diskusi memaparkan tentang keberhasilan AK Party di Turki meraih dukungan mayoritas pemuda.
AKP meraih dukungan mayoritas pemuda, karena AKP memulai dari “pemenuhan harapan pemuda”. Di Turki pemudanya berharap akan kepastian pekerjaan, pendidikan dan perumahan.
Setelah pemuda simpatik karena harapannya di penuhi, AKP memperkuat penetrasinya dengan “mengubah gaya hidup” pemuda Turki. dari yg kebarat-baratan dan bebas tak terkendali menuju budaya turki dan budaya ketimuran.
Setelah dinilai berhasil, barulah AKP menanamkan “nilai” pada para pemuda.
……pemenuhan harapan pemuda > mengubah gaya hidup > nilai……
Dalam teknis pelaksanaannya, ada ruang batas toleransi yang cukup luas diawal dan semakin menyempit. bahkan toleransi bisa hilang, ketika kekentalan nilainya sudah sama antara si penyampai dan penerima nilai.
Menurut saya ini menarik karena:
- ada tahapan, diawali dari yg pragmatis untuk tujuan akhir yg idealis
- nilai dibangun setelah adanya kedekatan gaya hidup
- ada tahapan penyempitan ruang batas toleransi
- ruang penerapan strategi AKP ini sangat luas, bisa ke banyak medan.
Bgaiamana pendapat teman-teman?


hal tersebut bisa menjadi satu tindakan yang tepat, dan cerdas dalam berpolitik. dan memang terjadi beda pendapat mengenai hal ini. namun hasil yang terjadi di Turki dengan erdogan mampu memberikan contoh yang tak mudah untuk dibantah bukan?
mantab:)
layak untuk dijadikan tauladan
Susah penerapannya disini (Indonesia).
salam kenal Mas Arif,
terima kasih sudah menyempatkan berkunjung ke blog bunda. mungkin penerapan disana bisa lebih mudah krn kondisi negara dan rakyatnya , kalau diterapkan di negeri kita kayaknya belum bisa.
sekarang saja, kebijakan apapun yg dibuat selalu menuai protes dr masyarakat, jadi kayak gagap demokrasi gitu.
salam.
pendapat saya.. ah, jadi ingat umar bin abdul aziz… seorang khalifah sejati yg ketika muda menjadi pemuda yg sangat suka bersolek, namun semakin dewasa ia semakin sadar diri. *eh nyambung gak komennya*
Saya belum mampu melihat ada sosok atau gerakkan yang dapat memungkinkan pembaharuan ini terjadi.
Lebih baik ini dimulai dari diri sendiri dulu
@tukangobatbersahaja: ada yg sedang bergerak mbak. tokohnya tidak satu, tp banyak. tp memang belum seterkenal akp.
ya ngga bisa langsung diterapkan mentah-mentah di sini.. secara kultur beda soalnya.. mungkin bisa di satu kota, lalu di kota lain dan kota lainnya lagi. Lingkupnya lebih kecil ketimbang negara…
Ehm, ini contoh yang baik
Moga kabarmu selalu baik, sahabatku
@ chic: tepat mbak, harus di sesuaikan dengan kondisi masyarakat. tp bukankah masyarakat pada dasarnya suka kalau kebutuhannya dipenuhi terlebih dahulu?
@achoey: kabar baik kang, Alhamdulillah. kapan undangannya kang?
Keren, kalau itu terjadi di Indonesia sepertinya ramalan kebangkitan itu berawal dari Indonesia bisa jadi kenyataan ya…
dalam pola fiqh dakwah, seroang da’i hrs bisa memahami, memfasilitasi, sampai memenuhi kebutuhan mad’u, baru kemudian menanamkan nilai. hal ini sgt manusiawi, orang yg ‘terhutang budi’ mk cenderung akan ikut kepada orang yg telah membantunya…
teringat cerita seorang ustadz saat dauroh. Ustadz bercerita:
seorang ikhwah datang ke rumah seorang ustadz, dia melihat isi rumah ustadz sudah kosong, tak ada perabot, padahal beberapa bulan sebelumnya si ikhwah datang perabot2 itu msh ada.
kemudian si ikhwah brtanya (mendesak) apa yg sedang terjadi, dan akhirnya sang ustdaz pun dengan terpaksa bercerita.ustadz bercerita salah seorang mad’u nya absen dari halaqah.alasan sang mad’u krn ia sdg mencari pinjaman utk anaknya yg sakit yg harus dibayarkan hari itu juga.
kemudian tanpa pikir panjang mr/mas’ul langsung melihat isi rumah yg bisa ia jual (krn pada saat itu ia tak lagi memiliki uang) dan langsung ia jual sofa yg ada dirumahnya kemudian uangnya diberikan kepada sang mad’u.
tadhiyyah (pengorbanan) yg tulus adalah sebuah keniscayaan bagi seorang da’i